L-Ants

2018
ceramics, aluminum, acrylic paint

This project is the result of the annual study of art subjects at ISI in Yogyakarta, Indonesia. I used local techniques and technology of ceramic art during my work. Low-temperature ceramics and acrylic sprays. The installation became part of the ISI Yogyakarta campus. 50 ceramic ant, L – Ants. The exhibition can be seen from 24 June 2018 – end.

——————————————————–

I was born in the Czech Republic, small land with beautiful and kind landscapes. Winters are long and we have been using many kinds of pesticides to boast our harvests. However those pesticides are nowadays destroying the natural ecosystem, nature is not renewing and it is dying. During last century we had more crops then ever, but more then half of insects spices went extinct.The lend changed. Czech people have many fairy tales about insects. Its high time to listen to this stories and approach nature with awe and respect. Nowadays we have strong nature protection programs, but maybe its simply too late. M first visit to Java was 4 years ago and even during this short time many things have changed. I feel people less and less follow traditions and Javanese values. Even traditional agriculture is transforming and more and more pestides is being used. They kill insects, they are in food which we eat, they are in water… What will be Java like in few years? Will there still be rich biodiversity? Wll majority of insect die out and there will be just this artifical ants left?

——————————————————–

(Bahasa Indonesia)
Saya lahir di Republik cheko, negara kecil dengan hamparan tanah yang indah dan ramah. Musim dingin selalu panjang dan kami terlalu banyak menggunakan pestisida untuk mendorong panen kami supaya menghasilkan lebih dan lebih banyak lagi. Padahal pestisida-pestisida tersebut merusak ekosistem alam, alam tidak memperbarui dan terus menerus sekarat. Selama 1 abad terakir kami menghasilkan panen lebih dari sebelumnya, namun lebih dari separuh spesies serangga punah. Cheko mempunyai banyak dongeng tentang serangga. Ini adalah waktu yang tepat untuk kembali mendengarkan dongeng-dongeng tersebut dan mendekat ke alam dengan penuh penghormatan dan penghayatan. Saat ini kami punya program perlindungan alam yang kuat namun mungkin ini semua terlalu terlambat.
Pertama kali saya ke Jawa adalah 4 tahun yang lalu dan pada periode yang sangat singkat tersebut banyak hal yang berubah. Saya merasa orang-orang semakin sedikit mengikuti tradisi dan nilai nilai budaya Jawa. Bahkan pertanian tradisional berubah dan pestisida lebih banyak digunakan. Mereka membunuh serangga. Akan seperti apa Jawa pada beberapa tahun ke depan? Apakah masih akan tetap kayak dengan keanekaragaman hayatinya? Ataukah hampir semua serangga akan mati dan hanya menyisakan semut semut artifisial ini?

mf

Leave a Reply